Senin, 04 Juni 2018

Sejarah Masjid Layur Semarang


Sejarah Masjid Menara Kampung Melayu
Pendahuluan
            Perkembangan Islam di Nusantara tidak lepas dari peran penting kaum pedagang dari kawasan Timur Jauh. Islam dibawa oleh para pedagang dari kawasan Hadramaut atau Yaman dengan membawa beragam jenis barang kualitas ekspor[i]. Mereka juga mendirikan sebuah pemukiman[ii]  di kawasan pesisir hingga memiliki akses langsung dengan penguasa setempat. Alhasil, Islam mulai berkembang melalui saluran perkawinan dan perjanjian politik dengan penguasa setempat. Islam di Jawa berkembang pesat sejak runtuhnya kekuasaan kerajaan Majapahit[iii].
            Kawasan pesisir pantai utara Jawa dikenal memiliki corak Islam puritan serta memiliki pusat perekonomian dan perdagangan di kawasan pelabuhan. Kawasan pesisir utara jawa dibagi menjadi dua bagian yaitu pesisir kulon dan pesisir wetan. Pesisir kulon (Cirebon, Tegal, Pekalongan) bercorak kebudayaan borjuis sedangkan pesisir wetan (Demak, Kudus, Rembang, Tuban hingga Gresik) memiliki corak kebudayaan islam pesisir sesungguhnya[iv].
Kota Semarang adalah bandar pelabuhan strategis bagi pedagang dari kawasan timur jauh seperti : India, Gujarat, Arab, Persia, hingga Tiongkok[v]. Kehadiran orang Eropa abad ke – 18 membuat Semarang berkembang menjadi kota metropolitan[vi]. Pengaturan pemukiman di kota Semarang diatur dengan hak istimewa yaitu exhorbitante yang dimiliki oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dalam peraturan regering reglement tahun 1851 diatur mengenai pemukiman masyarakat Eropa, timur asing atau oosterlingen, dan pribumi.
Kota Semarang adalah salah satu dari bagian kota-kota kolonial dan memiliki karakteristik sebagai kota triparit[vii], kota triparit memiliki 3 unsur yaitu masyarakat pribumi dengan kampung-kampung, orang timur asing (Tionghoa/Arab) dengan rumah dan toko-tokonya, sedangkan unsur Barat diwakili oleh benteng dan rumah bergaya arsitektur kolonial maupun indis. Undang-undang desentralisasi atau desentralisatiwet pada tahun 1903 serta baru dilaksanakan pada tahun 1905 bertujuan untuk memberikan perubahan dalam strata pemerintahan berupa pembangunan pusat pemerintahan kotamadya atau gementee.

Peta Kota Semarang tahun 1935
Sumber : maps.leiden.edu
Pemukiman Arab Semarang dikenal sebagai pemilik modal yang cukup besar serta kekayaan yang jumlahnya melimpah hingga sampai kepada keturunan selanjutnya[viii]. Mayoritas adalah pengusaha yang bergerak di bidang tekstil maupun industri lainnya, disamping para pengusaha keturunan Tionghoa[ix]. Tahun 1819, koloni ini sudah memiliki kepala koloni atau disebut sebagai “Kapiten”. Masyarakat Arab di Semarang bermukim di kawasan Layur yang berdekatan dengan Kali Semarang.
Kali Semarang dulunya digunakan sebagai pintu masuk menuju Semarang melalui jalur laut, hal tersebut dapat dibuktikan dengan keberadaan menara syahbandar atau Sleko untuk mengatur hilir mudik kapal yang masuk maupun keluar dari dan menuju kota Semarang. Perkembangan Kali Semarang sebagai kawasan bandar dagang adalah awal mula perkembangan kota Semarang modern hingga saat ini seperti halnya Kali Mas dan Pegirian di kota Surabaya.


Menara Syahbandar di Jalan Sleko, proses revitalisasi
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Di kawasan tersebut, sebanyak 1743 etnis Tionghoa pernah melakukan pemberontakan kepada orang Belanda sedangkan masyarakat Arab mendirikan sebuah masjid bergaya Hadrami dan lokal didirikan di kawasan Layur. Kawasan Layur sendiri mayoritas ditempati oleh masyarakat Arab disamping adanya etnis Tionghoa yang memiliki gudang besar penyimpanan barang di pinggir Kalikoping. Sebelumnya, gudang penyimpanan ini adalah milik VOC untuk menyimpan produk komoditas ekspor.
Hal tersebut membuat pemerintah kolonial Belanda mendirikan sebuah perusahaan penyedia jasa ekspedisi muatan kapal di kawasan kota lama Semarang bernama NV Bouw Matschappij. Perusahaan ini kemudian menjadi milik pemerintah Republik Indonesia sejak terkena kebijakan nasionalisasi tahun 1962 dan menjadi PT Pelni. Sedangkan perusahaan penyedia armada kapal yaitu Stoomvart Matschappij Nederland (SMN) memiliki kantor perwakilan di kawasan kota lama Semarang dan kini menjadi gedung PT Jakarta Dlloyld (Persero).
Pembangunan Masjid Menara Layur Semarang
Masjid ini menjadi bagian penting perkembangan kawasan Layur sebagai awal mula berdirinya kota Semarang modern saat ini[x]. Masjid ini berada di kawasan kota lama Semarang dan berada 1 kilometer dari stasiun Semarang Tawang milik NIS. Masyarakat Arab banyak menetap di kawasan Arabische Kamp karena kebijakan passen stelsel dan wijken stelsel. Pembangunan masjid ini dipelopori oleh saudagar Arab untuk kepentingan keagamaan maupun politik[xi].


Masjid Layur Semarang di kawasan Kampung Melayu
Sumber : Dokumentasi pribadi
            Masjid ini berdiri sejak kedatangan gelombang eksodus etnis Hadramaut pada abad ke – 18 dan menetap di kawasan Layur yang berdekatan dengan kali Semarang. Masjid ini bercorak geometrik dengan cat warna-warni yang didominasi oleh cat hijau muda. Bagian kanan dan kiri masjid masih terdapat bangunan tua dengan ukuran besar. Ornamen dinding yang menghiasi masjid memiliki percampuran dari Jawa, Melayu dan Arab[xii]. Nilai Jawa diwakili oleh bangunan masjid tumpang tiga[xiii] sedangkan ornamen dinding memiliki corak Melayu dan Arab. Sedangkan menara yang berada di kompleks masjid bergaya Hadrami awalnya digunakan sebagai mercusuar pengatur hilir mudik kapal yang masuk dan keluar melewati Kali Semarang yang berada tepat di belakang masjid.




Mercusuar yang kini digunakan sebagai menara masjid
Sumber : Dokumentasi Pribadi
            Beberapa rumah di kawasan jalan Layur memiliki corak seperti rumah bergaya Melayu, Banjar dan masih banyak lagi. Hal tersebut membuktikan bahwa kampung ini dahulunya adalah kawasan perekonomian dan menjadi tempat bertemunya beragam jenis pedagang baik dari Nusantara maupun kawasan jauh. Beragam jenis bangunan di tempat ini sebagian sudah beralih fungsi menjadi tempat tinggal maupun gudang penyimpanan. Kini, kawasan ini rawan sekali banjir rob yang berasal dari Laut Jawa hingga membuat jumlah penduduk Arab di kawasan ini berkurang drastis dan pindah ke tempat yang lebih aman seperti Tegal, Pekalongan, Gresik, hingga Surabaya.
 

Salah satu sudut jalan di Kampung Melayu Layur
Sumber : Dokumentasi Pribadi
            Warisan besar yang diberikan oleh VOC dan pemerintah kolonial Belanda hingga saat ini adalah pusat perekonomian yang berada di pesisir pantai atau disebut sebagai pelabuhan. Titik pelabuhan ini kemudian saling berkesinambungan satu sama lain untuk mengembangkan sebuah kota pantai maupun hinterland. Perkembangan kota pesisir besar seperti : Jakarta, Pekalongan, Semarang, Surabaya, Padang adalah segelintir pusat kota pantai yang berubah menjadi kota pesisir modern dengan corak budaya borjuis. Regulasi maritim yang dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda membuat Semarang berkembang menjadi salah satu bandar pelabuhan penting di Hindia Belanda sejak abad ke – 16[xiv].



[i] Islam disebarkan melalui tiga metode yaitu : oleh para pedagang muslim yang melakukan kunjungan dagang, para dai atau pendakawah dari jazirah Arab maupun orang suci. Komunitas muslim di Asia Tenggara tumbuh setelah runtuhnya kerajaan Sriwijaya dan Majapahit seperti : Pasai, Malaka, Aceh, Minangkabau, dan Jawa. Azyumardi Azra, 1989, Perspektif Islam di Asia Tenggara, Yayasan Obor Indonesia : Jakarta.
[ii] Dalam persebaran penduduk, biasanya orang-orang Timur Asing lebih suka mengelompok di suatu tempat tertentu yaitu dekat dengan tempat strategis seperti kawasan pesisir pantai. Daerah kota pelabuhan seperti Surabaya dan Semarang paling tidak terdapat kampung Pecinan, kampung Arab, dan kampung Melayu. Handinoto, Perkembangan Kota, halaman : 48.
[iii] Menurut Tome Pires, runtuhnya pusat kekusaan Majapahit tidak semata-mata akibat berkembangnya komunitas muslim di kawasan pesisir, melainkan adanya penyerangan kerajaan Kediri oleh dinasti Girindrahwardhana.
[iv] Islam pesisir memiliki sifat puritan atau murni, hal tersebut berbanding terbalik dengan Islam di kawasan pedalaman yang memilki sifat akulturasi dan asimilasi terhadap kebudayaan lokal. Menurut Pigeaud, Surabaya adalah gerbang masuknya paham baru mengenai Islam yang dibawa oleh kaum cendekiawan dari Timur Tengah, Asia Barat, maupun Afrika. Koentjaraningrat, 1984, Kebudayaan Jawa, Balai Pustaka : Jakarta.
[v] Catatan Fa Hian dari Tiongkok membuktikan bahwa pada tahun 399 – 414 masehi, orang Tionghoa telah mengunjungi Jawa dalam perjalanan ke Hindia. Lihat Benny G. Setiono, 2003, Tionghoa dalam Pusaran Politik. Elkasa : Jakarta, halaman : 18 -19.
[vi] Menurut Mc Gee, keberadaan kota yang terletak di daerah pesisir pantai maupun sungai sangat penting sebagai arus ekspor dan impor barang bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Lihat T.G Mc Gee. 1967, The Southeast Asian City : A Social Geography of the Primates Cities of Southeast Asia, University of California : California.
[vii] Konsep Triparit merupakan bagian dari kota bawah, sebuah kawasan yang dikelilingi tembok kota dan kanal untuk mengelilingi kota. Lihat Freek Colombijn (eds), 2005, Kota Lama, Kota Baru : Sejarah Kota-kota di Indonesia, Ombak : Yogyakarta, halaman 148.
[viii] Van den Berg, 1989, Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara, INIS : Jakarta.
[ix] Produk Mataram Islam yang laku keras di kawasan pantai utara Jawa adalah kain Belengan (Batik warna biru) dan kain lurik/ginggang. Anton Haryono, 2015, Mewarisi Tradisi Menemukan Solusi : Industri Rakyat Daerah Yogyakarta Masa Kolonial (1830 – 1930 an). Universitas Sanata Dharma Press : Yogyakarta, Halaman : 64.
[x] Masjid adalah lingkaran makna yang mempersatukan konfigurasi budaya umat Islam, mempersatukan aspek-aspek budaya dan ekonomi menjadi satuan yang koheren. Kuntowijoyo, 2006, Budaya dan Masyarakat, Tiara Wacana : Yogyakarta, halaman : 135.
[xi] Menurut Ibnu Khaldun, adanya penyelidikan mengenai dua jenis masjid di kota yaitu : masjid besar di bawah kontrol penguasa sedangkan masjid kecil di bawah pengelolaan masyarakat biasa untuk sholat dan pertemuan akbar. Pada masa pergerakan nasional, masjid Ampel Surabaya adalah salah satu masjid yang digunakan untuk kepentingan politik dalam rangkan mobilisasi massa Sarekat Islam maupun masyarakat umum dalam melawan kebijakan politik pemerintah kolonial Hinda Belanda. John L. Esposito, 2000, Enskiklopedia Oxford Dunia Islam Modern. Mizan : Bandung, halaman : 353
[xii] Islam telah mempunyai sifat keterbukaan sejak semula dan selalu toleran terhadap adat kebiasaan lama suatu daerah hingga menyebabkan munculnya berbagai corak baru dalam mengembangkan ciri khas daerah perkembangan tersebut, salah satuya dalam menambah kekayaan arsitektur Islam. Abdul Rochim, 1983, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia. Angkasa : Bandung, halaman : 17.
[xiii] Menurut W.F Stutterheim, ia menganggap bahwa bangunan masjid beratap tumpang atau bertingkat adalag pengaruh dari seni bangunan di Bali untuk tempat pertarungan sabung ayam.
[xiv] Lihat Anthony Reid, 2011, Asia dalam Kurun Waktu Niaga Jilid 1-2, Yayasan Obor Indonesia : Jakarta.

Rabu, 28 Maret 2018

Pengaruh Persia dalam Proses Islamisasi di Nusantara


Pengaruh Persia dalam Proses Islamisasi di Nusantara

            Peradaban Nusantara berkaitan erat dengan peradaban agama, hal ini dibuktikan dengan peninggalan budaya batu besar atau “Megalithikum” seperti : menhir, dolmen, sarkofagus dan punden berundak. Peradaban ini juga berkaitan erat dengan perkakas yang berhubungan dengan aktivitas manusia dari sejak zaman Paleolithikum, hal tersebut dapat dibuktikan dengan keberadaan sampah kerang di pinggir pantai atau disebut kjokken modinger. Perkakas manusia juga sudah digunakan semenjak mengenal sistem nomaden hingga bercocok tanam.
            P. Mus dalam L’ inde vue de I’est Cultes Indiens etidigenies au champa menyatakan bahwa cakupan wilayah peradaban Nusantara cukup luas yaitu : mencakup India, Indocina, Indonesia, dan beberapa wilayah di kawasan lautan pasifik seperti Polinesia, Micronesia, maupun Fiji. Faktor lingkungan yang tak menentu menimbulkan munculnya beberapa bentuk kebudayaan dan kepercayaan terhadap nenek moyang sejak zaman batu tua. Salah satu agama atau kepercayaan kuno yang dianut mayoritas peradaban Nusantara adalah agama Kapitayan. Agama ini berasal dari Jawa[i], tumbuh dan berkembang berdasarkan faktor lingkungan sejak dari zaman Paleolithikum hingga zaman besi. Secara sederhana, Kapitayan digambarkan sebagai suatu ajaran keyakinan yang memuja sesembahan utama yang disebut Sang Hyang Taya[ii]. Ajaran ini juga sama sekali tidak terpengaruh secara signifikan oleh kebudayaan Dongson yang membawa kebudayaan perunggu dan besi ke Nusantara[iii], bisa dikatakan hampir sebagian besar wilayah di kawasan Asia Tenggara sama-sama menganut ajaran Kapitayan walaupun dengan nama yang berbeda.

Proses Masuknya Islam ke Nusantara
            Sebelum Islam masuk, kepercayaan lokal dan Hindu-Budha sangat mendominasi hingga keruntuhan kerajaan Majapahit pada abad ke – 15. Islam pada waktu tersebut hanya memiliki posisi kecil dalam sebuah stuktur masyarakat kuno, hal tersebut dibuktikan dengan keberadaan kerajaan kecil maupun pemukiman pedagang dari kawasan luar yang menetap di pesisir pantai. Islam yang berkembang dan masuk ke Nusantara mayoritas menggunakan jalur perdagangan dan perkawinan sebagai sarana dakwah yang menguntungkan daripada mengangkat senjata.
            Sumber dari Barat seperti Dr Snouck Hungronje dalam De Islamin Nederlandsche-Indie Seri II No 9 dari Groote Godsdiensten menyebutkan bahwa tatkala Islam sudah ada di Nusantara, raja Mongol Hidagu menghancurkan Baghdad berserta perpustakaan Islam tahun 1258 Masehi, setengah abad sebelum kejadian tersebut Islam sudah berkembang di kawasan Nusantara termasuk di Pasai[iv]. Catatan dari beberapa penjelajah sepeerti Ibnu Batuta membuktikan adanya keberadaan kerajaan Islam di Sumatera Utara bernama Pase. Marcopolo seorang penjelajah dari Barat menjelaskan : Tahun 1292 ia berlayar dari pelabuhan Cina Selatan selama beberapa bulan sebelum sampai di Sumatra. Setelah beliau sampai, ia menemukan suatu kampung di Aceh Timur berisi pedagang-pedagang Islam dari berbagai tempat. Tempat tersebut kemudian disebut orang Barat sebagai Ferlec atau kerajaan Perlak. Kawasan Barus (Farsur) yang dianggap biadab atau alien heidensch oleh penjelajah Barat ternyata menemukan bukti bahwa Islam sudah masuk terlebih dahulu di kawasan ini. sekarang kawasan Barus ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya dan penghasil barus alami terbaik sejak zaman kerajaan Pasai.
         Islamisasi di Nusantara pertama kali dilakukan oleh para saudagar dari kawasan Timur Tengah. Menurut S.Q Fatimi, orang-orang Muslim pembawa Islam ke Nusantara berasal dari kawasan Benggala[v], Maghribi, Hadramaut, maupun Persia (Iran). Komunitas pedagang muslim dari kawasan tersebut kemudian mendirikan pemukiman di kawasan tersebut[vi]. Supremasi sebuah kerajaan di suatu kawasan juga berperan penting dalam proses islamisasi di kawasan tersebut. Menurut Rickleff, pola pembentukan budaya dan islamisasi di kerajaan Pasai bermula dari kekuasaan Supra Desa menuju negara terpusat.
       Dalam hikayat raja-raja Pase menjelaskan mengenai kerajaan Pasai sebagai berikut : Syekh Ismail dari Mekkah datang untuk masuk ke Sumatra untuk mengislamkan daerah Marah Silu, kemudian daerah tersebut berhasil diislamkan dan dikenal seorang raja mahsyur bergelar Syah yaitu Malikul Saleh sebagai raja pertama di Pase. Menurut Marcopolo hingga Ibnu Batutah, proses islamisasi di tanah Sumatra dan Jawa terjadi sejak tahun 1292 hingga 1416. Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa, raja-raja Islam di Jawa dalam membangun sebuah keraton umumnya dilandasi oleh konsep kosmologi yang berlansgung sejak zaman pra Islam, konsep tersebut berupa keseimbangan antara mikrokosmos dan makrokosmos. Di dalam usaha menyelaraskan dunia kerajaan harus memiliki sebuah gunung buatan sebagai pusat jagad raya[vii].

Pengaruh Persia dalam Proses Islamisasi di Nusantara
            Peradaban Nusantara dibentuk dari keberagaman etnis, ras, agama dan budaya yang sudah berlangsung sejak ratusan ribu tahun lalu. Hal tersebut berlaku dalam corak Islam yang masuk ke kawasan Nusantara sejak zaman kerajaan Hindu-Budha. Salah satu bangsa yang cukup berpengaruh dalam corak keislaman di Nusantara adalah bangsa Persia. Pengaruh bangsa Persia dan India sangat dominan dalam mempengaruhi corak kehidupan masyarakat sekarang baik dalam bidang bahasa, sistem pengajaran Al Qur’an hingga sastra Islam berupa hikayat dalam bahasa Persia.

Bidang Bahasa
Sistem Pengajaran Al-Qur’an
Karya Terjemahan Bahasa Persia
Kanduri (kanduri)
Fathah : jabar
Qissa i Emir Hamza (Hikayat Amir Hamzah), mengisahkan kepahlawan Hamzah bin Abdul Muthalib, pama Nabi Muhammas SAW
Astana (istana)
Kasrah : jer / zher
Qissah Wassiyah al-Mustafa Il Imam Ali (Hikayat Nabi Mengajar Ali)
Bandar (pelabuhan)
Dhammah : pes / fyes
Qissah Amir Al- Mu’minin Hasan wa Husein (Hikayat Hasan dan Husein)
Bedebah
Huruf syin
Wafat Nameh (Hikayat Nabi Wafat
Biadab, bandar


Diwan (dewan)


Gandum, bius


Jadah (anak haram)


Syahbandar


Pahlawan


Kismis, medan


Takhta, firman



Menurut S.Q Fatimi dalam Islam Comes To Malaysia mencatat bahwa abad ke – 10 Masehi terjadi migrasi[viii] keluarga Persia ke Nusantara, diantaranya :
  1.  Keluarga Lor di Jawa, yang mendirikan desa Leran di Gresik, Jawa Timur
  2. Keluarga Jawani yang berada di Pasai, Sumatra Utara. Keluarga ini adalah penyusun “Khat Jawi” atau tulisan Jawi yang dinisbatkan kepada keluarga Jawani[ix]
  3. Keluarga Syiah, tinggal di Sumatra Timur yang kemudian daerah tersebut dinamakan sebagai negeri Siak
  4. Keluarga Rumai di Puak Saban Karah, Sumatra.

Masyarakat Persia yang memiliki madzhab Syiah banyak bermukim di kawasan tersebut kemudian meninggal dunia meninggalkan batu nisan bertuliskan Arab yang ditujukan untuk menghormati Imam Syiah Husein bin Ali bin Abi Thalib. S.Q Fatimi menjelaskan bahwa jenis tulisan Kufi pada nisan di makam sekitar makam Fatimah Binti Maimun[x] di Gresik berisi doa dari golongan Syiah.
          Ada beberapa pendapat mengenai masuknya Islam di Nusanatara yang lebih tua dari perkiraan abad ke 12 Masehi. Professor Abu Bakar Atjeh menunjukkan lwewat catatan H,M Zainuddin dalam kitab Tarikh Aceh mengatakan : “Bahwa beberapa nama penyair pertama yang lebih dahulu datang di Pase bersama armada kapal yang dipimpin oleh seseorang bernama Zahid. Ia adalah komandan armada Persia yang terdiri dari 33 buah kapal dari perjalanan ke Tiongkok, beberapa kapalnya singgah di pesisir tanah Aceh (Andalas Utara) dalam abad pertama Islam (82 H = 717 Masehi)[xi].
       Daftar dari Tengku M. Yunus Jamil dalam pekan kebudayaan Aceh di Kutaraja Tahun 1958 mengenai silsilah raja-raja Perlak. Seorang Sayid Quraisi menikahi putri Perlak hingga menurukan keturunan enam raja pertama Perlak yang semuanya memiliki gelar Syah. Dr. KH J. Cowan dalam karangannya A Persian Inscription In North Sumatra menetapkan bahwa adanya kuburan seorang ulama Iran besar yaitu Hasan Kahir bin Al Amir Ali Istrabadi meninggal dunia pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 833 H. Beberapa tokoh wali seperti Syaikh Subakir berasal dari Persia, sedangkan Maulana Malik Ibrahim adalah wali dari Iran asal Kashan[xii]. Namun, disisi lain sejumlah tradisi Jawa tidak menyebutkan Maulana Malik Ibrahim sebagai salah satu dari anggota Wali Songo[xiii].

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah 
  1. Islam masuk ke Nusantara dari Aceh[xiv]
  2. Penyiar Islam tidak hanya dari Gujarat, adanya mubaligh-mubaligh Islam dari bangsa Arab termasuk Persia
  3. Madzhab pertama yang dipeluk di Aceh adalah Syiah dan Syafi’i.
Disisi lain, Belanda mempunyai alasan mengenai kontribusi orang Gujarat dari India dalam proses Islamisasi di Nusantara sebagai berikut :
  1. Hubungan dagang yang sudah berkembang sejak zaman kerajaan Salakanegara hingga Kerajaan Sriwijaya
  2. Gujarat adalah pelabuhan penting
  3. Batu-batu nisan yang didatangkan dari Gujarat
  4. Nama-nama raja dengan gelar Syah dari Persia atau India
  5. Akulturasi budaya India dan Nusantara yang berlangsung harmonis tanpa merusak kebudayaan setempat
  6. Madzhab Syiah dan ajaran Wahdahtul Wujud dalam ilmu tasawuf.

Keberadaan pada pedagang Iran dan India seringkali berdagang ke kawasan jauh, salah satunya di pasar-pasar Banten Lama[xv]. Kawasan tersebut banyak terdapat pedagang Iran dan Khorasan menjual batu-batu berharga maupun obat[xvi].

Raja-raja Keturunan Syiah di Nusantara
            Van den Berg dalam bukunya “Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara” dijelaskan bahwa hasil dari proses kegiatan syiar keislaman adalah dari orang Arab golongan Sayyid maupun Syekh. Sayed Alwi bin Tahir Al-Haddad memberi komentar dalam kitabnya berjudul ”Perkembangan Islam di Timur Jauh”, ia menjelaskan bahwa agama Islam awalnya berkembang di daerah Sumatra kemudian menyebar hingga ke kawasan Malabar dan Koromandel. Banyak dari mereka adalah keturunan Sayyid atau Alawi yang memiliki garis keturunan langsung dari Rasulullah SAW.
       Dalam sejarah Serawak dikatakan bahwa Sultan Barakat berasal dari keturunan Sayyidina Husein bin Ali ‘A History of Serawak under Two Whit Rajabhs’. Selain Serawak, riwayat raja-raja di sekitar Mindanaou (Filiphina) dan Pontiakan masih terdapat silsilah dari keturunan Suku Al-Gadri. Mereka adalah keturunan Syarif Ali Zainal Abidin yang pindah dari Hadramaut ke Johor, dan berkembang di kawasan tersebut hingga sekarang.
            Sebagian raja keturunan Syiah di Nusantara juga banyak karena menyebutkan gelar Al-Malik atau Raja, seperti yang ada dalam kuburan Al-Malik Al-Kamil dalam Tahun 607 H atau 1210 Masehi. Al Haddad dalan terjemahan Indonesia oleh Dhiya Shabab mengataan bahwa sesudah Sultan Malik Asshaleh ini memerintah, anaknya yaitu Sultan Muhammad Al-Zahir dan seterusnya hingga anaknya bernama Sultan Ahmad bin Muhammad al-Zahir.
         Kuburan-kuburan di Aceh banyak ditemukan di Aceh, Meunasah, Blang Me, Pase, Samudra dan lain-lain. Al-Haddad berpendapat bahwa keluarga-keluarga seperti diatas inilah merupakan asal-usul raja-raja Brunei, Cermin Lama, Serawak, dan negeri-negeri lainnya yang takluk kepada kerajaan Islam Pase. Selain di Aceh, nama raja-raja yang disusun dalam sejarah pemerintahan Aceh terdapat juga gelar Sayyid dan Syarif seperti misalnya Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin (1702 M), Syarif Lam Tui (1702 – 1903 M), dan Syarif Syaiful Alam (1815 – 1820 M) juga tertera nama golongan ahlul bait yang ikut memerintah.
         Salah satu contohnya adalah di Palembang dengan silsilah yang panjang seperti Tuan Fakih Jamaluddin yang dimakamkan di Talang Sura (1161 M). Nama lengkap beliau adalah Syaikh Jamaluddin Agung bin Ahmad bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad seterusnya hingga Sayyidina Hisain. Dalam silsilah keturunannya, ia mempunyai tujuh orang anak salah satunya adalah Zainul Akbar. Zainul Akbar adalah orang yang menurunkan raja-raja Kasultanan Palembang hingga dua tokoh walisongo seperti Prabu Satmata (Sunan Giri) yang berkedudukan di Giri Kedaton, Gresik dan Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang berkedudukan di kampung Ampel, Surabaya.
       Banyak orang Persia keturunan Ahlul Bait yang bercampur dengan darah raja-raja di Nusantara baik di Malaysia hingga Nusantara, baik kerajaan di Borneo, Sulawesi, Maluku[xvii] hingga ke Jawa. Tokoh Wali Songo yang dianggap sakral banyak memiliki garis keturunan yang bersumber langsung dari keturunan Rasulullah SAW, ditambah lagi dengan sultan dari zaman kerajaan Mataram Islam saat masa pemerintahan Sultan Agung.


[i] Pulau Jawa adalah sebuah negeri yang sangat besar, negeri yang dimulai dari Cirebin (Choroboam) hingga Blambangan (Bulambaum). Tom Pires, 2015, Suma Oriental Karya Tom Pires : Perjalanan dari Laut Merah ke Cina, Ombak : Yogyakarta. Halaman : 242.
[ii] Agus Sunyoto, 2016, Atlas Walisongo, Pustaka Mizan : Bandung, halaman : 14
[iii] Ibid, halaman : 19
[iv] Abu Bakar Atjeh, 2017, Sejarah Syiah di Nusantara, Sega Arsy : Bandung, halaman : 18
[v] Menurut Van Leur, perdagangan di India lebih dahulu bila dibandingkan dengan perdagangan di Cina, hal ini diperkuat dengan berkembangnya pelabuhan di pantai India sebelum pantai di Cina Selatan.
[vi] Hasil penelitian dari Alan Gilbert dan Joseph Gugler membuktikan bahwa mayoritas migran yang ditanya selalu menjawab bahwa prospek ekonomi perkotaan lebih baik dibandingkan dengan pedesaan. Alan Gilbert & Joseph Gugler, 1996, Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga, Tiara Wacana : Yogyakarta, halaman : 60.
[vii] R. Von Heine Geldorn, 1982, Konsepsi tentang Negara dan Kedudukan Raja di Asia Tenggara, Terjemahan Deliar Noor. CV Rajawali Press : jakarta, halaman : 7.
[viii] Menurut van Leur dalam buku Indonesia Trade and Society, migrasi kaum pendatang sangat bergama salah satunya dalah kolonialisasi oleh keompok yang lebih besar, atau gelombang migrasi yang disebut sebagai eksodus. Perdagangan adalah alat tawar menawar politik kepada puenguasa setempat tanpa adanya perlawanan sama sekali sehingga berhasil memunculkan pemukiman yang memiliki kekuataan administrasi dan hukum yang kuat. Disisi lain, hubungan dagang maupun politik dengan para pedagang asing dari kawasan timur jauh sangat berperan penting dalam proses gelombang eksodus dari kawasan tertentu. Restu Gunawan dkk, 1999, Ternate sebagai Bandar Jalur Sutera, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia : Jakarta, halaman : 6.
[ix] Agus Sunyoto, 2016,  Atlas Walisongo, Pustaka Mizan : Bandung, halaman : 50 - 51
[x] Batu Nisan tersebut ditulis dalma bahasa Persia lama, Fatimah binti Maimun dalam tahun 475 H atau 1082 – 1083 Masehi.
[xi] Abu Bakar Atjeh, Sejarah Syiah di Nusantara, Sega Arsy : Bandung, halaman : 40
[xii] Ibid, halaman : 64
[xiii] RA Kern menyebtukan bahwa prasasti pada makam Maulana Malik Ibrahim tidak hanya seornag Persia aja, melainkan peganag yang terhormat yang bisa dilihat dari bentuk makamnya yang indah. Lihat Titis Eddi Aryani, 1995, Historiografi Indonesia : Sebuah Pengantar. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta, halaman : 63.
[xiv] Dahulu, Aceh adalah bentuk dari eksistensi kerajaan Islam Lamuri, akhir abad ke – 15 pusat kerajaan Lamuri kemudian dipindahkan ke Meukuta Alam yang berada di Banda Aceh. Pada masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah, Kesultanan Aceh Darussalam berhasil menjadi pusat peradaban Islam di Asia Tenggara pada abad ke  - 16. Zaenuddin H.M, 2014, Asal-Usul Kota-koya di Indonesia Tempoe Doeloe, Change Publisher : Jakarta, halaman : 14-15.
[xv] Area perdagangan dan produksi berada di luar benteng kota dan berdekatan dengan kawasan pelabuhan. Claude Gulliot, Banten : Sejarah Peradaban Abad ke X – XVII. Kepustakaan Populer Gramedia : Jakarta, halaman 224.
[xvi] Terjadinya ledakan permintaan akan hasil bumi Asia Tenggara khususnya terjadi akibat dari masa kemakmuran atau toleransi perdagangan di Cina, yang berpengaruh terhadap stok tanaman obat. Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Waktu Niaga 1450 – 1680 : Jaringan Perdagangan Global, Yayasan Obor Indonesia : Jakarta, halaman : 14.
[xvii] Menurut tradisi lockal pada abad ke XIV yang diceritakan oleh Molomatje penguasa Ternate kedua belas (1350 – 1357), ia telah bersahabat dengan seorang Arab yang memberikan pelayaran kapal. Di Tidore ada penguasa muslim bernama Hasan Shah, pada masa pemerintahan Zainal Abidin ia mengirimkan banyak pedagang Islam yang belajar ke pesantren Giri (Prabu Satmata/Sunan Giri). Restu Gunawan dkk, 1999, Ternate sebagai Bandar Jalur Sutera, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia : Jakarta, halaman : 23.